BANTENINSIDE.COM – Perjalanan pulang yang seharusnya penuh kelegaan berubah menjadi kisah pilu yang menyentuh hati. Seorang ibu bernama Elis, warga Kabupaten Pandeglang, harus ditandu sejauh hampir satu kilometer setelah menjalani operasi sesar—karena akses jalan menuju rumahnya rusak parah.

Peristiwa ini terjadi pada Jumat (18/4/2026), dua hari setelah Elis menjalani operasi di Rumah Sakit Labuan. Pagi itu, dokter memperbolehkannya pulang. Harapan untuk beristirahat dengan tenang di rumah pun sempat terbayang.

Namun, harapan itu sirna saat kendaraan yang ditumpangi memasuki wilayah Desa Pasir Kadu, tepatnya di Kampung Terep Damar. Jalan yang dilalui berubah drastis—berbatu, terjal, dan dipenuhi lubang.

Setiap guncangan mobil terasa menyiksa luka operasi yang masih basah.

“Pas sampai di ujung cor, jalannya sudah tidak layak. Batu semua dan naik turun. Di dalam mobil guncangannya keras, kakak saya langsung kesakitan,” ujar Hadi, adik Elis.

🛑 Tak Bisa Lanjut, Harus Ditandu

Kondisi Elis yang semakin memburuk membuat perjalanan tak mungkin dilanjutkan dengan kendaraan. Di tengah keterbatasan, keluarga dan warga sekitar akhirnya mengambil keputusan darurat: menandu Elis hingga ke rumah.

Dengan alat seadanya dan semangat gotong royong, Elis dibawa melintasi jalan rusak sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju Kampung Kikasam, Desa Turus.

Perjalanan itu bukan hanya melelahkan, tapi juga penuh risiko bagi kondisi medisnya yang belum stabil.

⚠️ Dua Desa, Satu Masalah: Jalan Rusak Parah

Menurut keluarga, akses yang dilalui melewati dua desa dengan kondisi memprihatinkan—Desa Pasir Kadu dan Desa Turus. Jalan rusak bukan hal baru, namun dampaknya kini kembali menjadi sorotan setelah kejadian ini viral.

“Adapun akses yang kami lalui kemarin untuk membawa pasien ke rumah itu melewati dua desa yang jalannya parah,” tambah Hadi.

📢 Jeritan Warga yang Tak Boleh Diabaikan

Kisah Elis menjadi simbol nyata kesenjangan akses infrastruktur dan layanan kesehatan di daerah. Di saat fasilitas medis sudah mampu menyelamatkan nyawa, perjalanan pulang justru menjadi ancaman baru.

Peristiwa ini memicu reaksi publik luas. Banyak yang mempertanyakan keseriusan pemerintah daerah dalam memperbaiki infrastruktur dasar yang sangat vital, terutama bagi kondisi darurat medis.

Karena pada akhirnya, keselamatan pasien tidak hanya ditentukan di ruang operasi—tetapi juga di jalan menuju rumah.(els